Menjadi Generasi Trengginas Bukan Sekedar Pembebek
(follower)
Pesan Dorothy Law Nolte:
"Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi...
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri...
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia akan belajar meragukan diri...
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri...
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri...
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai...
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menyenangi diri...
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupannya."
'Generasi Trengginas' bukanlah generasi ikut-ikutan (follower)
Besarkan anak bukan menjadi follower dan buat ia belajar memutuskan dan bertanggungjawab terhadap apa yang ia putuskan.
Sudah seharusnya orangtua memastikan anak dalam track yang tepat. Sudahkah itu terlaksana wahai para orangtua? Karena sudah semestinya orangtua mampu mengarahkan anak-anaknya untuk menentukan apa yang menjadi pilihannya.
Pada permulaannya, pilihan anak adalah bagian dari tanggung jawab para orangtua. Artinya, orangtua di sini memberikan opsi/referensi pilihan dan memberikan informasi atas tiap-tiap pilihan tersebut. Setelah anak mengetahui opsi dan informasi atas opsi tersebut dengan baik secara otomatis tercapailah kehendak anak yang ingin direalisaiskan.
Pada kondisi selanjutnya biarkan si anak sendiri yang memutuskan kehendak baiknya tersebut. Jadi para orangtua, setelah anak memilih dan tahu apa yang dipilih, kemudian orangtua harus memberikan support atas pilihannya tersebut. Lalu, pertegas kembali pilihannya, agar si anak mampu mempertanggungjawabkan pilihannya tersebut. Sehingga nantinya tercipta sebuah karakter yang kuat dari seorang anak. “Saya memilih atas kemauan saya, dan saya tahu betul kenapa saya memilih itu,” kata si anak.
Kelak dewasa nanti si anak menjadi pribadi yang gemilang nan cerah masa depannya. Bukan 'pembebek' yang hanya bisa ikut-ikutan dan terjerumus dalam jurang kesesatan.
Kapan sikap ini diperlukan?
Kapan saja dalam hal apapun Jika melihat keadaan masyarakat Indonesia sekarang ini justru banyak orang yang walau dalam umur yang seharusnya sudah matang dalam berpikir dan berperilaku namun dalam kenyataannya belum juga demikian.
Masih terlalu banyak orang yang belum bisa jadi penentu atas dirinya sendiri. Dalam arti masih saja membebek, meniru perkataan dan perbuatan orang lain, yang padahal perbuatan tersebut tidaklah patut untuk dicontoh/ditiru.
Problem yang sebenarnya adalah yang diikuti dan ditauladani bukanlah orang-orang yang kompeten/baik secara kehidupan melainkan orang yang buruk secara perilaku. Dengan kata lain, karena belum mampu menentukan sikap atas dirinya sendiri generasi di Indonesia bukanlah generasi 'trengginas'. Generasi yang penuh karya kreatif.
Sebaliknya generasi kita masih mudah terombang-ambing, berbaur dengan keadaan.
Jika bangsa ini terus saja mengembangkan perilaku buruk ini hingga menjadi budaya yang solid. Maka kehancuran yang lebih besar akan terus terjadi.
Misal, kerusakan yang terjadi:
1. Kenakalan remaja dalam pergaulan bebas
2. Tawuran / anarki
3. Seks bebas
4. Game online
Orangtua tidak boleh ‘over protective’:
Jika ruang gerak dibatasi akan terus membuat diri tidak berkembang sampai-sampai jadi ketergantungan dalam berbagai hal. Mandeknya kualitas diri karena tidak ada ruang gerak adalah ‘siksaan’.
Kesimpulan, orangtua punya kendali terhadap anak dan kontrol tersebut menentukan mau di bawa kemana masa depan anaknya. Mau jadi, generasi yang membebek alias 'ikut-ikutan' (follower), atau 'Generasi Trengginas' yang berani melakukan terobosan-terobosan baru dan berani melawan pakem yang ada (penuh prestasi).
Generasi Trengginas adalah generasi yang 'gemar membaca'
Sangat diperlukan oleh generasi penerus bangsa yaitu generasi yang gemar membaca. Mampu mengaktualisasikan kemampuan diri dengan baik. Terus menumbuhkan kreativitas melalui banyaknya penemuan yang dilakukannya.
Kenapa membaca?
Karena, membaca membuka cakrawala berpikir, memperluas pengetahuan anak. Orang sukses di dunia ini juga sudah menunjukkan bahwa mereka gemar membaca. Membaca sepertinya adalah rekreasi. Membaca adalah refreshing dari kejenuhan menjalani kehidupan. Kita lihat para filsuf seperti Ibnu Sina yang mampu melahirkan ratusan kitab (buku), persisnya 450 buku. Kalau buku yang ditulisnya saja ada ratusan artinya yang ia baca sebagai bahan penciptaan buku melebihi buku-buku yang ia tulis.
So, zaman makin modern artinya membaca pun semakin menjadi prioritas.
Apa pun prestasinya, membaca tetaplah prioritas.
Semoga manfaat...
#Remajasuksesmudamuliaberkahberlimpah
Salam AOKers, Alghi Fari Hasibuan
Semoga manfaat...
#Remajasuksesmudamuliaberkahberlimpah
Salam AOKers, Alghi Fari Hasibuan

About
Tags
Popular
0 komentar:
Posting Komentar