“Very Good Very Well” – “Manggut-Manggut Jangan Rewel”
(Temanmu Adalah Rezekimu)
Teringat
dengan perkataan Pak Tung Dasem Waringin (seorang Motivator dan
Developer Properti) kepada saya. “Kalian butuh kerja? Saya lebih butuh
karyawan.” Begitulah ucapannya yang saya ingat. Maksudnya adalah dia
lebih-lebih membutuhkan karyawan untuk membantu bisnisnya ketimbang kita
orang lain yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dengan alasan yang jelas
bahwa tidak mungkin dia seorang diri yang meng-handle bisnisnya, begitu banyaknya deal-deal yang harus ia ambil yang bersamaan dengan padatnya pekerjaan dan singkatnya waktu. Urgent
sekali. Rumit sekali kalau ia tidak mendelegasikan pekerjaannya itu.
Oleh karena itu, so pasti, ia butuh sekali tenaga kerja yang mampu
memuluskan langkah bisnisnya. Right!
Coba bayangkan jika teman kita itu adalah Tung Dasem Waringin, coba bayangkan kita punya teman sekelas Sandiaga S Uno (salah satu orang terkaya di Indonesia). Coba kita punya kenalan seperti, Merry Riana (motivator wanita pertama di Asia), pastinya ada dong kecipratan rezeki dari mereka. Betul tak? Proyeknya dan skill yang kita miliki, jika sesuai pastinya Mba Merry akan contact kita untuk membantunya menjadi partner. Bong Chandra (Motivator, Author dan Developer properti) juga punya segudang job, mungkin dong dia serahkan sebagian lelahnya kepada kita. Itulah mengapa saya sebut, “Temanmu adalah rezekimu.”
Very Good Very Well – Manggut-manggut Jangan Rewel!
Lalu mengapa, terkadang tidak serta-merta teman kita yang sukses tersebut, tidak jua mengingat kita sebagai temanya untuk membantunya menjadi rekan setim dalam menyelesaikan job-nya. Padahal sering BBM-an atau Whatsapp-an atau teman 1 kampus dan sering ngerjain tugas kelompok bareng di kampus atau teman sekantor yang sudah bertahun-tahun bareng, sudah merasakan suka duka bersama-sama dilalui (saling kenal). Why? Jawabannya, bukan tidak ingat… Dia jelas sekali ingat kita, hanya saja dia rada kurang nyaman dengan attitude kita. Yes, itu bisa jadi penyebabnya.
Mungkin sifat kita yang kurang menyenangkan. Ya kurang menyenangkan, kurang membuat nyaman maksudnya. Walau tak bisa dipungkiri, kita cari orang yang kompeten, kita cari orang-orang jenius dalam bisnis kita. Tapi tak dipungkiri, soal hati gak bisa bohong, hehe.. Itulah pentingnya bersifat “Very Good Very Well – “Manggut-manggut jangan rewel”.
Maksudnya? Orang yang ramah dan nyaman diajak diskusi akan lebih mudah dicintai, dan tentunya lebih mudah mengundang rezeki. Orang-orang demen bergaul dengan kita. Sebaliknya, orang yang rewel dan maunya mendominasi pembicaraan terus padahal asal ceplos aja, padahal asbut (asal sebut) yang penting bunyi aja, malah seandainya hanya mengisi posisi yang rendah saja di bisnis kita, kita rada sungkan alias kurang ridha atau mending cari orang lain yang sedikit kita kenal perangainya. Walah kok gitu? Aneh kan? Tapi itulah yang biasa terjadi. Soal hati gak bisa bohong. Right!
Terakhir. Temanmu adalah rezekimu…
Coba deh hunting teman. Hunting teman yang enggak gitu-gitu aja alias membuat kita bertambah-tambah pengetahuan dan karakter kita. Sekiraya diskusi dengan dia, sudah cukup lebih penting daripada pertemuan diperkuliahan sekalipun. Pilah-pilih teman dong? Bukan pilah-pilih teman. Justru kalau teman kita gitu-gitu aja… di bawah kita semua kelasnya, atau sederajat dengan kita semua.. itu baru disebut pilah-pilih teman.
Atau sederhananya, bertemanlah dengan siapa pun, tapi masuklah, bergaullah dengan mereka yang kita anggap derajatnya atau status sosialnya lebih tinggi dari kita. Enggak 4L (loe lagi – loe lagi), hehe..
Disitu pula menunjukkan keseriusan kita untuk maju. Dan biasanya cost-nya tidak murah. Seminar atau training misalnya. Di dalam seminar atau training kita punya kesempatan yang luas untuk bertemu dengan orang-orang yang enggak umum alias potensial, karena ingin maju juga. Berbagai kalangan hadir di sana, dari pejabat pemerintahan s.d jagoannya bisnis ada di sana. Biasanya kita bisa bertukar kartu nama. Bahkan memang disediakan waktu khusus di awal waktu untuk saling mengenal satu sama lain, sambil kasih kartu nama. Sepertinya itu sudah menu wajib dalam seminar atau training. Kemudian, keseriusan kita untuk maju biasanya berbanding lurus dengan harga seminar atau training. Oleh karena itu event tersebut seharga puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan s.d juta-an rupiah harus rela kita keluarkan.
Demi ilmu bro! hehe… Clear ya,hunting teman dan jadilah teman yang asyik buat teman kita.
“Dengki noh si Dengki nongol mulu.” Hehe…
Selain itu, janganlah memendam kedengkian terhadap kesuksesan orang lain yang membuat kita tak sefrekuensi dengan kesuksesannya. Seharusnya bisa berkolaborasi dan sukses bareng, eh malah menjauh dan semakin jauh. Dengki itu penyakit. Penyakit rezeki juga. Karena dengki, mematikan kreativitas, mematikan potensi kita. Jauh-jauh deh dari kata dengki. Karena dengki pula, bisa menjadi penyebab kita kurang bisa hidup akur dalam komunikasi atau pun berpikir, sampai dengan berkolaborasi dengan teman kita. So, Very Good Very Well – Manggut-manggut jangan rewel, karena temanmu adalah rezekimu.
#Suksesmuliaberkahberlimpah –
@al_ghifariHSB – Founder Akuntansi Otak Kanan
(Juara 1 Nasional olimpiade akuntansi dan marketing, Juara Harapan 1 Akuntansi Nasional tingkat perguruan tinggi di Surabaya, “COMPAC” tahun 2014)
(Temanmu Adalah Rezekimu)
Teringat
dengan perkataan Pak Tung Dasem Waringin (seorang Motivator dan
Developer Properti) kepada saya. “Kalian butuh kerja? Saya lebih butuh
karyawan.” Begitulah ucapannya yang saya ingat. Maksudnya adalah dia
lebih-lebih membutuhkan karyawan untuk membantu bisnisnya ketimbang kita
orang lain yang sedang membutuhkan pekerjaan. Dengan alasan yang jelas
bahwa tidak mungkin dia seorang diri yang meng-handle bisnisnya, begitu banyaknya deal-deal yang harus ia ambil yang bersamaan dengan padatnya pekerjaan dan singkatnya waktu. Urgent
sekali. Rumit sekali kalau ia tidak mendelegasikan pekerjaannya itu.
Oleh karena itu, so pasti, ia butuh sekali tenaga kerja yang mampu
memuluskan langkah bisnisnya. Right!Coba bayangkan jika teman kita itu adalah Tung Dasem Waringin, coba bayangkan kita punya teman sekelas Sandiaga S Uno (salah satu orang terkaya di Indonesia). Coba kita punya kenalan seperti, Merry Riana (motivator wanita pertama di Asia), pastinya ada dong kecipratan rezeki dari mereka. Betul tak? Proyeknya dan skill yang kita miliki, jika sesuai pastinya Mba Merry akan contact kita untuk membantunya menjadi partner. Bong Chandra (Motivator, Author dan Developer properti) juga punya segudang job, mungkin dong dia serahkan sebagian lelahnya kepada kita. Itulah mengapa saya sebut, “Temanmu adalah rezekimu.”
Very Good Very Well – Manggut-manggut Jangan Rewel!
Lalu mengapa, terkadang tidak serta-merta teman kita yang sukses tersebut, tidak jua mengingat kita sebagai temanya untuk membantunya menjadi rekan setim dalam menyelesaikan job-nya. Padahal sering BBM-an atau Whatsapp-an atau teman 1 kampus dan sering ngerjain tugas kelompok bareng di kampus atau teman sekantor yang sudah bertahun-tahun bareng, sudah merasakan suka duka bersama-sama dilalui (saling kenal). Why? Jawabannya, bukan tidak ingat… Dia jelas sekali ingat kita, hanya saja dia rada kurang nyaman dengan attitude kita. Yes, itu bisa jadi penyebabnya.
Mungkin sifat kita yang kurang menyenangkan. Ya kurang menyenangkan, kurang membuat nyaman maksudnya. Walau tak bisa dipungkiri, kita cari orang yang kompeten, kita cari orang-orang jenius dalam bisnis kita. Tapi tak dipungkiri, soal hati gak bisa bohong, hehe.. Itulah pentingnya bersifat “Very Good Very Well – “Manggut-manggut jangan rewel”.
Maksudnya? Orang yang ramah dan nyaman diajak diskusi akan lebih mudah dicintai, dan tentunya lebih mudah mengundang rezeki. Orang-orang demen bergaul dengan kita. Sebaliknya, orang yang rewel dan maunya mendominasi pembicaraan terus padahal asal ceplos aja, padahal asbut (asal sebut) yang penting bunyi aja, malah seandainya hanya mengisi posisi yang rendah saja di bisnis kita, kita rada sungkan alias kurang ridha atau mending cari orang lain yang sedikit kita kenal perangainya. Walah kok gitu? Aneh kan? Tapi itulah yang biasa terjadi. Soal hati gak bisa bohong. Right!
Terakhir. Temanmu adalah rezekimu…
Coba deh hunting teman. Hunting teman yang enggak gitu-gitu aja alias membuat kita bertambah-tambah pengetahuan dan karakter kita. Sekiraya diskusi dengan dia, sudah cukup lebih penting daripada pertemuan diperkuliahan sekalipun. Pilah-pilih teman dong? Bukan pilah-pilih teman. Justru kalau teman kita gitu-gitu aja… di bawah kita semua kelasnya, atau sederajat dengan kita semua.. itu baru disebut pilah-pilih teman.
Atau sederhananya, bertemanlah dengan siapa pun, tapi masuklah, bergaullah dengan mereka yang kita anggap derajatnya atau status sosialnya lebih tinggi dari kita. Enggak 4L (loe lagi – loe lagi), hehe..
Disitu pula menunjukkan keseriusan kita untuk maju. Dan biasanya cost-nya tidak murah. Seminar atau training misalnya. Di dalam seminar atau training kita punya kesempatan yang luas untuk bertemu dengan orang-orang yang enggak umum alias potensial, karena ingin maju juga. Berbagai kalangan hadir di sana, dari pejabat pemerintahan s.d jagoannya bisnis ada di sana. Biasanya kita bisa bertukar kartu nama. Bahkan memang disediakan waktu khusus di awal waktu untuk saling mengenal satu sama lain, sambil kasih kartu nama. Sepertinya itu sudah menu wajib dalam seminar atau training. Kemudian, keseriusan kita untuk maju biasanya berbanding lurus dengan harga seminar atau training. Oleh karena itu event tersebut seharga puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan s.d juta-an rupiah harus rela kita keluarkan.
Demi ilmu bro! hehe… Clear ya,hunting teman dan jadilah teman yang asyik buat teman kita.
“Dengki noh si Dengki nongol mulu.” Hehe…
Selain itu, janganlah memendam kedengkian terhadap kesuksesan orang lain yang membuat kita tak sefrekuensi dengan kesuksesannya. Seharusnya bisa berkolaborasi dan sukses bareng, eh malah menjauh dan semakin jauh. Dengki itu penyakit. Penyakit rezeki juga. Karena dengki, mematikan kreativitas, mematikan potensi kita. Jauh-jauh deh dari kata dengki. Karena dengki pula, bisa menjadi penyebab kita kurang bisa hidup akur dalam komunikasi atau pun berpikir, sampai dengan berkolaborasi dengan teman kita. So, Very Good Very Well – Manggut-manggut jangan rewel, karena temanmu adalah rezekimu.
#Suksesmuliaberkahberlimpah –
@al_ghifariHSB – Founder Akuntansi Otak Kanan
(Juara 1 Nasional olimpiade akuntansi dan marketing, Juara Harapan 1 Akuntansi Nasional tingkat perguruan tinggi di Surabaya, “COMPAC” tahun 2014)

About
Tags
Popular
0 komentar:
Posting Komentar